Home Berita Dua Dosen Fakultas Dakwah IAI Tribakti Kediri Ambil Bagian dalam Kajian Busana...

Dua Dosen Fakultas Dakwah IAI Tribakti Kediri Ambil Bagian dalam Kajian Busana Khas Kediri

32 views
0
SHARE

Kediri – Tujuan UU Pemajuan Kebudayaan Nomer 5/017 adalah jalan untuk mewujudkan cita-cita bangsa Indonesia menjadi masyarakat berkepribadian dalam kebudayaan, berdikari secara ekonomi, dan berdaulat secara politik. Hal inilah yang ditangkap oleh Bupati Kediri H. Hanindhito Himawan Pramana, S.H untuk wiayah yang dipimpinya salah satunya untuk menelusuri busana khas Kadiri.

Kadiri merupakan salah satu kerajaan yang ada di Indonesia dan cukup besar pengaruh budayanya adalah Kerajaan Pańjalu, atau Kaḍiri. Kabupaten Kediri, sebagai pewaris pusat peradaban Kerajaan Kadiri memiliki tanggungjawab melestarikan berbagai unsur budaya yang ada, terutama busana daerah.

Unsur-unsur budaya masa lampau yang kini tinggal jejak-jejaknya, kemudian ditelusuri melalui berbagai sumber warisan budaya yang ada dan disesuaikan dengan kondisi masyarakat Kediri pada masa kini.

“Busana tidak sebatas digunakan untuk menutupi bagian tubuh semata. Di balik itu juga, terkandung makna filosofi, serta identitas kebanggaan suatu masyarakat. Busana diproduksi dengan bahan tertentu, dengan cara-cara tertentu, serta dihiasi dengan motif-motif yang indah. Busana yang diproduksi pada suatu daerah memiliki banyak perbedaan dengan produksi daerah lain. Walaupun dibuat dengan bahan, serta dengan cara yang hampir sama, dibaliknya terkandung nilai-nilai budaya lokal yang diekspresikan oleh masyarakat pembuatnya dan tentunya tiap daerah berbeda,” kata Imam Mubarok Ketua Tim Kajian.

Ditambahkan Mubarok, Ajining Diri Saka Lathi, Ajining Raga Saka Busana adalah sebuah nukilan peribahasa Jawa yang menunjukkan upaya keselarasan lahir batin, bahwa seseorang akan dihargai pada dua hal yakni; tentang apa yang diucapkan dan bagaimana pakaian yang digunakan.

“Busana merupakan bagian penting yang digunakan manusia sejak masa lalu yang dapat menunjukan identitas, jati diri, dan kebanggaan. Data-data tentang busana dan wastra setidaknya dapat dilacak dari sumber prasasti, naskah kuna dan relief yang terpahat pada monumen-monumen peninggalan masa lalu. Oleh karena busana khas harus mengandung 3 hal, pertama, spesifikasi, kedua menjadi pembeda / unik dan ketiga kecirian,” tambahnya.

Tim busana khas dibentuk oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Kediri diketuai oleh Imam Mubarok, dosen Fakultas Dakwah sekaligus Wakil Ketua Lesbumi PWNU Jatim dengan anggota Drs. Sigit Widyatmoko, M.Pd (Sekretaris TACB Kabupaten Kediri) ,H. Mahfud Asy Sydirozi, M.Pd (Dekan Fakultas Dakwah IAI Tribakti Kediri) , Drs. Qomarul Huda, M.Fil.L (Dosen IAIN Kediri), Drs Mieftahul Mufid (Pelaku Seni), Novi Bahrul Munib, S.Hum dan Adi Wahyono ( Pembatik). Selain tim pengkaji dari beberapa ahli , pembahasan busana khas ini juga melibatkan SKPD di lingkungan Pemkab Kediri. Mulai dari Balitbangda , Dinas Pariwisata dan Kebudayaan BPKKAD, Bagian Hukum , Dinas Koperasi dan Usaha Mikro, BPM, Dinas Komunikasi dan Informasi.

Kajian busana khas Kediri bukanlah hal yang mudah untuk dilaksanakan. Data-data yang sangat terbatas serta rentang waktu yang sangat panjang menjadi kendala utama dalam proses penyusunan rekonstruksi. Pada rentang abad XIII-XIX posisi Kediri sebagai pusat kebudayaan telah tergantikan oleh tempat lain, sehingga dalam pengambilan keputusan, rentan terjadi overlapping dengan “hasil klaim” dari pusat-pusat kebudayaan baru yang tumbuh dimasa kemudian. Namun demikian, setidaknya Kediri masih memiliki data-data penting yang masih terserak untuk dirangkai kembali menjadi identitas dan kebanggaan masyarakatnya.

“Melalui kajian busana Khas Kediri diharapkan menjadi dasar lahirnya busana khas Kediri. Dengan adanya busana tersebut, diharapkan dapat menumbuh kembangkan rasa cinta dan bangga terhadap Kediri, serta membangkitkan semangat untuk memajukan Kediri dimasa mendatang. Dan yang terpenting lagi apa yang dilakukan oleh tim ini dapat dipertanggungjawabkan secara keilmuan dan juga kepada publik,” kata H. Mahfud Asy Sydirozi, M.Pd ,Dekan Fakultas Dakwah IAI Tribakti Kediri.

Kegiatan yang dimula sejak akhir November 2021, saat ini sudah mencapai 75 persen. Mulai dari kajian baik pendekatan sumber sejarah, data arkeologi dan nilai tradisi ( ragam sumber data). Pendekatan artefak tua dan survei, sumber etnografis baik secara tekstual – filologi –susastra maupun ragam hias komponen candi.

“Hari ini kita mendatangkan ahli sejarah yang juga Dosen Sejarah Universitas Negeri Malang, Dwi Cahyono. Alhamdulillah memberi respon positif dari berbagai ragam metode yang kita lakukan. Sehingga semuanya memiliki makna dari apa yang disajikan. Untuk detailnya tunggu saja saat launchingnya pada 20 Desember 2021 oleh Bupati Kediri. ,” pungkas Imam Mubarok. (aro)