Mengembangkan Potensi Berdakwah dengan Workshop Jurnalistik

Kediri- Untuk memberikan wawasan dan pemahaman di bidang komunikasi, mahasiswa program studi (prodi) Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) Institut Agama Islam Tribakti (IAIT) Kediri mengadakan workshop jurnalistik pada hari Sabtu hingga Senin (26-28,04).

Workshop yang mengusung tema ‘Dampak Konvergensi Media Terhadap Akulturasi Budaya’ ini dimulai dengan materi desain grafis pada hari Sabtu (26/04) yang disampaikan oleh M. Arif Hanafi. “Sebagus apapun produk atau konten berita bila packagingatau kemasannya tidak menarikpesan akan sulit tersampaikan,” ujar manajer pracetak Jawa Pos Radar Kediri membuka percakapan.

Dalam materi ini peserta diperkenalkan dengan unsur visual yang digunakan dalam pengemasan, yakni berupa foto, ilustrasi, dan tipografi. Unsur-unsur ini yang banyak digunakan sebagai pedoman dalam setiap kali proses desain maupun lay out (tata letak) media cetak. Tata letak di sini meliputi perwajahan sampul dan isi. Keduanya mempunyai porsi dan fungsi yang berbeda, namun harus tetap memenuhi kaidah dalam desain.

Jika aspek perwajahan (sampul) tidak digarap secara menarik, jangan terlalu berharap akan dibaca. Sebab pembaca telah terbiasa “dimanjakan” matanya oleh desain-desain yang menarik dan menyenangkan mata. Pengelola majalah saat ini tidak cukup hanya mengandalkan kualitas isi (berita/naskah), kendati aspek verbal ini amat penting. Harus disadari bahwa aspek visual (desain grafis) memiliki peran sangat strategis dan efektif untuk memikat calon pembaca.

Sebelum memulai berkreasi ada baiknya seorang desainer mengetahui beberapa kaidah dasar daesain. Antara lain yang pertama, kenali konsumen. Dari kalangan mana konsumen yang akan menjadi pembaca media cetak yang kita buat. “Majalah anak-anak tentu kurang sesuai jika di dalamnya terlalu banyak kata-kata ilmiah seperti yang biasa digunakan mahasiswa,” terang pria tambun ini. Kedua, kesan pertama. Dalam hal ini yang pertama kali dapat memberikan kesan bagi konsumen adalah sampul. “Karenanya perwajahan sampul yang menarik menentukan laris tidaknya media cetak kita,” tambahnya. Selanjutnya antara lain adalah, tipografi (pemilihan huruf), warna, keseimbangan, irama dan proporsi yang kesemuanya mempunyai seluk beluk masing-masing.

Materi lay out atau desain grafis idealnya diletakkan di hari terakhir, setelah mempunyai bekal materi jurnalistik dan fotografi. “Tapi tidak masalah, nantinya anda bisa memadukan materi ini setelah besok mendapat materi jurnalistik,” ujar arif menutup materinya.

***

Berita. Apa yang ada di benak anda ketika mendengar kata ‘berita’? Apakah kejadian yang kita alami sehari-hari bisa disebut berita? Pertanyaan inilah yang menjadi topik utama pada hari kedua acara workshop jurnalistik KPI IAIT Kediri, Minggu (27,04). Sebagai pemateri Imam Mubarok, mengupas tentang seluk beluk berita.

“Tidak semua kejadian, peristiwa, informasi bisa disebut berita. Jika demikian apa sebenarnya berita itu?” pancing Gus Barok, sapaan akrab pria yang selain dalam dunia jurnalistik juga aktif dalam berbagai agenda kebudayaan ini.

Untuk lebih jelas peserta kemudian diajak mengupas satu per satu unsur-unsur berita. Berita tak bisa lepas dari peran pencari berita alias wartawan. Seorang wartawan begitu keluar dari rumah harus menajamkan pancainderanya agar dapat menangkap peristiwa yang terjadi di sekitarnya. Terkait dengan tugasnya, obyek yang yang dicarinya adalah peristiwa besar, penting dan baru saja terjadi.

Proses pembuatan berita dimulai ketika wartawan menemukan peristiwa dan menentukan jalan cerita. Tidak cukup sampai di situ, ia juga harus mengadakan cek, ricek dan tripel cek dengan terjun langsung di lokasi kejadian peristiwa. Setelah itu dilanjutkan dengan memastikan sudut berita. Apa saja yang akan disampaikan dalam beritanya dan apa yang akan menjadi leadnya. Baru setelah itu proses penulisan berita dimulai.

Dengan kata lain suatu peristiwa bisa disebut berita ketika peristiwa itu dilaporkan, entah ditulis atau disiarkan. “Tak bisa kamu melakukan kejadian luar biasa kemudian tidak kamu olah dan laporkan menjadi sebuah tulisan,” pungkas wartawan merdeka.com ini.

Penyampaian berita tidak bisa lepas dari menuliskannya. Karena selain seluk-beluk berita dalam materi siang itu juga disampaikan kiat-kiat menulis dengan baik. Antara lain menulis dengan bahasa sederhana, lebih banyak menggunakan kata kerja, menghindari kata-kata berkabut dan istilah asing dan agar tulisan lebih terasa hidup usahakan menulis seperti sedang bercerita.

Workshop hari itu semakin menarik karena peserta juga diberi tugas untuk belajar menggali berita dan menuliskan laporannya. Pada sesi terakhir satu per satu berita hasil reportase peserta dikupas dan dikoreksi bersama.

***

Fotografi menjadi materi pamungkas dalam hari terakhir (28/04) workshop KPI ini. Karenanya para peserta sudah mempersiapkan membawa kamera dari rumah. Pemateri yang hadir didatangkan langsung dari Jombang, Anas Afansah. “karena banyak yang membawa kamera poket, kali ini saya bukan mau menjelaskan tentang dasar-dasar teknik fotografi. Melainkan komposisi yang bisa digunakan untuk segala jenis kamera,” ujar alumnus Akademi Desain Visi Yogyakarta (ADVY) ini.

Komposisisecara sederhana diartikan sebagai cara menata elemen-elemen dalam gambar.Elemen-elemen ini mencakup garis, shape, warna, terang dan gelap. Yang paling utama dari aspek komposisi adalah menghasilkanvisual impact, sebuah kemampuan untuk menyampaikan perasaan yang anda inginkan untuk berekspresi melalui foto anda. Dengan demikian anda perlu menata sedemikian rupa agar tujuan anda tercapai, apakah itu untuk menyampaikan kesan statis dan diam atau sesuatu mengejutkan, beda, eksentrik. Dalam komposisi klasik selalu ada satu titik perhatian yang pertama menarik perhatian (point of interest).

Selanjutnya satu per satu Anas memberi contoh bagaimana sebenarnya foto yang bercerita itu. “Foto yang memiliki bobot jurnalistik mampu bercerita tentang fakta-fakta yang sulit dijelaskan secara verbal,” ujar pria berkaca mata ini.

Satu hal perlu diingat, perkembangan fotografi jurnalistik saat ini telah melompat jauh, baik peralatan, teknik, maupun tuntutan kualitasnya. Foto jurnalistik kini dituntut memiliki public-interest yang tinggi, tidak hanya menarik bagi seseorang atau sekelompok tertentu saja.

Setelah mengetahui unsur-unsur yang membuat indah suatu karya foto, para peserta kemudian diberi tugas untuk hunting foto pada sesi istirahat. Perangkat kamera bebas. Karena dalam materi komposisi yang terpenting adalah peletakan obyek secara tepat. Satu jam setelah itu satu per satu foto hasil hunting peserta dikoreksi dan dinilai.

***

Workshop ini merupakan kegiatan jurnalistik pertama yang diadakan fakultas Dakwah IAIT Kediri. Tujuannya selain memberi pelengkap mata kuliah jurnalistik juga menjadi ajang mengasah kompetensi mahasiswa dalam bidang dakwah bil tulisan. Hal ini agak berbeda dengan orientasi prodi KPI beberapa tahun lalu. Bahwa lulusan KPI selalu menjadi juru dakwah (dai mimbar) yang sesuai dengan fakultasnya. Hal inilah yang menginspirasi mahasiswa prodi KPI mengadakan workshop ini.

“Dengan praktek yang nyata mahasiswa akan memahami bagaimana menjadi wartawan yang baik. Diharapkan dengan setelah adanya kegiatan ini jurusan KPI IAI Tribakti bisa melahirkan wartawan-wartawan profesional disuatu hari nanti,” tukas Bustomi Mustofa, selaku Dekan fakultas dakwah di sela-sela workshop.

Dengan workshop ini, mahasiswa KPI telah membuktikan bahwa inilah momentum yang tepat untuk bangkit. Tidak sekedar pelengkap jurusan saja. Saatnya meninggalkan minoritas dan siap untuk menjadi mayoritas di IAI Tribakti Kediri. (asl/hdr/amn)